Galian C di Argasunya, Cirebon Makan Korban Jiwa.

oleh -

Detikkasus.com | Jawa Barat, Diduga seorang penambang pasir tewas, dikarenakan kecelakaan kerja di lokasi pertaabangan galian C Kelurahan Argasunya Kota Cirebon, Kamis (18/7/2019).

Menurut keterangan Kepala Desa Argasunya, Dudung Abdul Barry menuturkan, dirinya mendapatkan laporan jika salah seorang warganya mengalami kecelakaan kerja di lokasi galian pasir manual sore tadi.

“Betul ada warga kami yang meninggal akibat kecelakaan di lokasi galian pasir manual,“ kata Dudung Abdul Barry Lurah Argasunya pada pojokjabar melalui sambungan selulernya, Kamis (18/7/2019) malam.

Ia berharap, dengan kejadian kecelakaan yang menimpa warga yang bernama Bapak Muhammad Jejeri warga Kedung Krisik Selatan RT 02 RW 06, maka pihaknya meminta kepada pemilik lahan galian pasir harus mau bertanggung jawab.

“Dengan adanya kejadian kecelakaan yang mengakibatkan meninggalnya seorang pekerja di lokasi lahan galian pasir milik perorangan, kami berharap pemilik lahan bertanggung jawab,“ ujar Lurah Argasunya kepada Media.

Masih menurutnya, pihak Kelurahan menghimbau agar masyarakat bisa bersabar dengan rencana pemerintah Kota Cirebon yang akan melakukan program alih profesi bagi masyarakat yang bekerja sebagai buruh galian pasir manual.

“Kami juga sangat berharap masyarakat sabar dengan usaha dari pemerintah Kota Cirebon dalam alih profesi bagi masyarakat Argasunya yang bekerja di galian pasir manual,“ harapnya.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Cirebon Kota Menuturkan, Proses evakuasi korban yang tertimbun longsoran tebing galian C di RT 02 RW 10 Kedung Jumbleng, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Korban diduga adalah salah satu sopir truck galian C.

“Benar, galian C di Kelurahan Argasunya makan korban jiwa. Korban diduga adalah salah satu supir dumtruck yang sedang istirahat di bawah tebing galian C,” kata Iptu Momon Sukarman kepada pojokjabar.

Seperti diketahui, galian C di Kelurahan Argasunya sebetulnya telah dihentikan Pemerintah Kota Cirebon. Namun warga lokal meminta pengecualian untuk aktivitas penambangan dengan cara manual.(Tim 9).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *