Tradisi “Ter Ater” Lebaran Hampir Punah, Dinilai Negatif Karena Ada Unsur Keterpaksaan, Reporter Hernandi K S.Sos M.Si.

Sampang, Detikkasus.com – Salah satu tradisi masyarakat di Kabupaten Sampang Madura Jawa Timur menjelang lebaran yakni memberikan sesuatu yang di kenal dengan “Ter ater” kepada sanak family dan tetangga

Pemberian berupa makanan itu sebagai wujud rasa syukur (slametan) karena sudah menjalankan ibadah puasa serta perayaan lebaran

Namun sekarang tradisi tersebut sudah memudar dan hampir punah, karena sebagian menganggap kebiasaan itu lebih banyak negatifnya

Bagi yang menilai negatif karena dari tahun k tahun tujuan dari “Ter ater” melenceng dari niat awal yakni memaksakan diri supaya tidak di kucilkan oleh warga lain

Selain itu mereka memaksakan diri untuk menghindari kesan hanya menerima dari orang lain saja

Seperti yang di sampaikan oleh Ketua Karang Taruna Kabupaten Sampang Moh Jakfar

Menurut Moh Jakfar yang juga menjadi pemerhati sosial, sebenarnya tradisi itu sangat bagus dalam konteks sosial kemasyarakatan sebab tujuan awalnya mewujudkan rasa syukur bersama sanak famili dan keluarga

Selain itu merajut kebersamaan dan persaudaraan saat menjalani ibadah puasa serta memperbanyak sedekah kepada sesama
“Dalam momen Ramadhan sesungguhnya sangat positif di jalani, toh hanya setahun sekali,” ucap Moh Jakfar

Namun tujuan awal sudah bergeser seiring perkembangan jaman

Moh Jakfar mengatakan sebagai makhluk sosial sangat manusiawi jika ada perubahan berpikir di masa sekarang, seperti tidak ingin di kucilkan oleh masyarakat sekitar hanya karena selalu menerima pemberian orang lain

Bahkan yang lebih tragis ada beberapa kampung yang lingkungannya seperti mewajibkan untuk ber “Ter ater”, jika tidak mrlakukan maka akan jadi gunjingan

Sehingga warga yang tidak mampu terpaksa harus mencari uang bahkan sampai berhutang agar dapat melakukan “Ter ater”

Jadi pola pikir yang seperti itulah yang menyebabkan tradisi “Ter ater” di Kabupaten Sampang hampir punah

Moh Jakfar berharap supaya masyarakat tidak terjebak dengan paradigma negatif tentang “Ter ater”, bagi yang mampu teruslah bersedekah dengan tulus ikhlas tanpa berharap balasan dari penerima

Bagi yang tidak mampu tidak perlu memaksakan diri sebabkan ikut mendoakan merupakan langkah yang bijak dan pisitif daripada memaksakan kehendak. (Her).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.