Teknologi Sebab Keroposnya Karakter-Karakter Muda Bangsa?

oleh -

Oleh: Sophie Mahasiswa UMM.

Detikkass.com | Teknilogi merupak ilmu yang berhubungan dengan alat atau mesin yang diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menyelesaikan berbagai macam masalah atau pekerjaan yang terdapat di dunia. Di era milenial/digital ini, teknologi amatlah membantu kehidupan sehari-hari kita. Mulai dari mencari informasi, luasnya jaringan, serta keuntungan lainnya yang membuta kita sangat bergantung akan teknologi tersebut. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa teknologi membawa dampak negative, seperti terkikisanya karakter anak bangsa. Sekarang teknologi sangat berpengaruh terhadap karakter anak. Saat ini kita tau bahwa bangsa Indonesia telah kehilangan karakter pada anak bangsa. Seperti halnya etika, prilaku tolong menolong kemudian saling menghargai dan lain-lain sudah jarang ditemui dalam diri anak. Hal ini dikarenakan dampak dari teknologi yang semakin menjamur dalam dunia anak. Sehingga anak dengan mudahnya mengakses situ-situ yang akan memberikan dampak negative terhadap anak. Misalnya anak menjadi individualis, berprilaku agresif, emosi tidak stabil dan yang paling parah anak dapat melakukan tindakan criminal. Dapat kita lihat dari kasus yang heboh di Indonesia beberapa bulan yang lalu menimpah Audry. Dimana Audry mendapatkan perlakuan penganiayaan dari pelajar SMA yang berjumlah 12 orang. Mirisnya para pelaku tidak merasa terbebani dan merasa bersalah akan perbuatanya. Hal ini dikarenakan penggunaan gadget dan kurangnya pengawasan dari orang tua, Sehingga karakter yang seharusnya terbentuk secara maksimal menjadi terhambat. Akibatnya anak tidak dapat mengontrol emosi dan prilakunya. Dampak negative lainnya dari penggunaan gadget menyebabakan anak-anak menjadi malas bergerak dan beraktivitas. Mereka lebih memilih duduk diam di depan gadget dan menikmati dunia yang ada di dalam gadget tersebut. Mereka lambat laun telah melupakan kesenangan bermain dengan teman-teman seumuran mereka maupun dengan anggota-anggota keluarganya. Hal itu tentunya akan berdampak buruk terhadap kesehatan maupun perkembangan tumbuh anak. Selain itu, terlalu lama menghabiskan waktu di depan layar gadget membuat interaksi sosial anak juga mengalami gangguan (Novita & Khotimah, 2016).

Data penggunaan gadget berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di kawasan kompleks Perumahan Pondok Jati, dari 17 anak-anak yang bertempat tinggal di kompleks ini semuanya sudah mengenal dan senang menggunakan gadget. Kebanyakan dari mereka menggunakan gadget berjenis smartphone maupun tablet pc. Anak-anak ini lebih sering menggunakan gadget untuk mengoperasikan aplikasi permainan, baik itu permainan yang bersifat edukatif maupun petualangan dan hiburan (nama pengarang jurnal, tahun). Data statistik penggunaan gadget menurut kominfo jumlah pengguna internet tahun 2017 telah mencapai 143,26 juta jiwa atau setara dengan 54,68 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah tersebut menunjukan kenaikan sebesar 10,56 juta jiwa dari hasil survei pada tahun 2016 (Kominfo, 2018). Apabila kenaikan penggunaan gadget ini berlangsung terus-menerus, dikhawatirkan akan mengganggu suatu proses interaksi sosial pada anak usia dini, dimana anak-anak seharusnya dapat berinteraksi baik dengan lingkungan sekitar akan tetapi dengan adanya gadget sebuah interaksi tersebut akan mengalami sebuah gangguan (Novita & Khotimah, 2016). Selain itu penggunaan gadget secara berlebihan pada anak akan berdampak pada karakter anak, dilihat dari kasus pebullyan yang terjadi beberapa bulan terakhir.

Anak usia dini adalah seorang anak berusia 0-8 tahun yang belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti sekolah dasar (SD) dan biasanya mereka tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam bentuk berbagai lembaga pendidikan pra-sekolah, seperti kelompok bermain, taman kanak-kanak, atau taman penitipan anak (Nurmalitasari, 2015). Pada masa perkembangan anak usia dini menurut Piaget anak sudah dapat mengklasifikasikan objek yang menggunakan satu ciri. Seperti, mengumpulkan benda-beda berwarna merah meskipun berbeda bentuknya (Santrok, 2012). Jika pada masa perkembangan usia dini anak sudah menggunakan gadget tanpa pengawasan orang tua, akan memberikan danpak negative terhadap apa yang akan ditangkap oleh anak. Pendidikan karakter diartikan sebagai nilai-nilai, sikap, dan perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Karakter tersebut meliputi berbagai hal seperti etis, demokratis, hormat, bertanggung jawab, dapat dipercaya, adil dan fair, serta peduli. Menurut Piaget perkembangan moral meliputi tiga tahap, yaitu (1) premoral, (2) moral realism, dan (3) moral relativism. Menurut Kolhberg perkembangan moral mencakup (1) preconventional, (2) conventional, dan (3) postconventional. Esensi kedua teori tersebut sama, yaitu pada tahap awal anak belum mengenal aturan, moral, etika, dan Susila (Suyanto, 2012). Manfaat dari adanya Pendidikan karakter ini membentuk pikiran, dan prilaku yang baik untuk anak.
Oleh karena itu pemerintah sebagai Lembaga yang memberikan fasilitas Pendidikan terhadap anak harus menerapkan kembali pembelajaran Pendidikan karakter di Sekolah diakrenakan semakin lama karakter yang seharusnya dimiliki oleh anak semakin menurun. Bahakan jika dibiarkan saja karakter yang seharunya ada pada anak akan hilang. Selain itu keluarga sebagai madrasa pertama bagi anak terutama orang tua juga harus mendidik anak mengeni Pendidikan karakter agar tidak terjadi permasalahn-permasalah dimasa yang akan datang.

Nama : Sophie Irma Suzanti
NIM : 201810230311221
Fakultas : Psikologi (Kelas D)
Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *