Sikap Mahasiswa sebagai Penerus Generasi

oleh -

Detikkasus.com | Toleransi merupakan salah satu cara kita menyikapi perbedaan umat beragama dalam lingkungan tempat tinggal kita. Toleransi merupakan suatu bentuk cara kita menciptakan kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat maupun dalam lingkungan tempat kita bekerja, menuntut ilmu, terlebih lagi dalam beragama, ras, suku, dan bangsa.
Dalam saat ini kita di berada dalam bulan yang penuh keberkahan, kita tidak hanya menahan haus lapar serta nafsu kita, termasuk juga ibadah sosial, antara toleransi dan politisasi media
Dalam syariah sunan Abu Dawud menerangkan bahwa “seorang muslim dilarang berjualan makanan disiang hari paada bulan ramadhan.”
Indonesia merupakan Negara dengan kultur budaya dan sosial yang sangat beragam. Berbagai suku, ras, budaya, agama dalam bersosialisasi mewarnai kehidupan bertoleransi di Negara Indonesia.
Salah satu cara Indonesia merdeka dengan mandiri karena semangat toleran yang menimbulkan persatuan dan kesatuan kita terhadap masyarakat Indonesia, untuk mengusir penjajah Belanda dan Jepang.
Sikap kita dalam bertoleransi biasanya akan meningkatkan rasa persaudaraan, rasa nasionalisme, meningkatkan kekuatan dalam beriman, serta mencapai kata mufakat.
Dalam masyarakat, mahasiswa dianggap sebagai salah satu kelompok yang menjadi subelemen masyarakat, sebab memiliki potensi besar dalam menciptakan suatu tatanan tertentu. Mahasiswa adalah manusia yang dipenuhi oleh idealisme, sebab dianggap sebagai tunas-tunas baru yang akan menggantikan para pemimpin pada saat ini.
Bahkan banyak sekali manfaat jika kita melihat apa saja manfaat dari bertoleransi yaitu menghindari perpecahan.
Namun, beberapa kenyataan saat ini mayoritas masyarakat Indonesia kehilangan semangat toleransinya.
Jika diartikan makna dalam bertoleransi sendiri dalah rights to differ, hak untuk berbeda. Seluruh manusia diberi ruang untuk merayakan perbedaan tersebut. Namun begitu, luasnya ruang perbedaan bukannya tanpa batas, terlebih dalam konteks Indonesia. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi agar perayaan atas hak untuk berbeda tidak memecah belah persatuan, terlebih lagi dalam daerah kampus.
Toleransi juga bukan sebatas “hak” untuk berbeda saja, tetapi juga merupakan “kewajiban” untuk menghargai perbedaan-perbedaan yang ada berdasarkan padda consensus bersama, yaitu uud 1945.
Larangan ketika dalam bulan ramadhan untuk berjualan itu berlaku untuk penjual yang muslim maupun kafir.
Lantas bagaimana dengan orang yang hidup dikawasan mahasiswa yang notaben masyarakat serta mahasiswa yang menduduki tempat tersebut tidak hanya beragama muslim?
Apakah dengan adanya warung atau tempat makan yang buka merupakan cara kita menghormati yang sedang tidak berpuasa?
Toleransi berarti saling menghormati, ada beberapa hal yang menjadikan kata toleransi untuk mendapatkan keuntungan, apalagi dengan mahasiswa yang bernotaben muslim ikut makan ditempat makan tersebut..
Bahkan kita tidak bisa membedakan mana orang yang muslim dengan mana orang yang non muslim. Lantas dimana kata menempatkan jika adanya toleransi bisa meningkatkan rasa beriman kita kepada Allah swt?
Perkataan toleransi menjadi imming-iming bahwa kita sudah bisa menjaga pernyataan kita bahwa kita akan bertoleransi dalam kehidupan kita, terlebih lagi yang menjadi anak rantau yang tidak diawasi bahkan jauh dari pengawasan orang tua.
Lantas yang harus bertoleransi orang yang beragama musliim atau non muslim?
Bagaimana logikanya, minoritas harus toleran terhadap mayorita?
Bukan soal atau jumlah kuantitas itu masalahnya. Tapi bermaksiat kok dibela? Jelas logikanya bukan logika agama. Jika logika tersebut diteruskan bagaimana kalau orang yang menikah harus menghormati orang yang berzina.
Jadi hormatilah akan jadi bangsa apa kita nanti.
Ada beberapa dorongan wacana supaya masyarakat kita tidak lagi menggunakan logika orang beragama.
Ini jelas tidak pancasila, seharusnya mahasiswa tahu apa isi dari sila pertama yang berbunyi “ketuhanan yang maha esa”
Bagaimana mungkin mahasiswa bisa berkembang jika sifat toleran pada saja tidak diterapkan.
Jadi yang salah siapa? Mahasiswa yang berbelanja diwarung atau penjual yang bernotaben muslim?
Jadi yang berbelanja ditempat makan tersebut mahasiswa muslim atau non muslim? Ataukah dua duanya. Biasanya warung buka untuk menghargai yang non muslim untuk mempermudah kebutuhhan pokok dari mahasiswa tersebut. Lantas bagaimana dengan pedagang? Atau mungkin itu satu satunya jalan pendapatan keluarga pedagang tersebut.
Jadi intinya, demi menjaga persatuan rasa toleransi harus dibudayakan dan diamalkan, tidak hanya dipelajari saja. Karena pada dasarnya manusia adalah sama dan perbedaan merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Jika kita dapat menyikapi perbedaan dengan rasa toleransi maka kita akan menjadi lebih kuat dan lebih maju lagi. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan sesuatu yang tidak bisa karena toleransi pun ada batasnya. Jadi, semuanya kembali Kediri masing masing apakah bisa mengambil kesempatan untuk memanfaatkan dampak posotif dari bertoleransi tetapi tidak keluar dalam konteks beragama. Serta seseorang yang berpuasa harus bisa menahan diri dari amarah dan tidak melakukan kejahatan sebagai balasan atas kejahatan yang diterimanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *