Rumah Terapi Psikologi Di Desa Kecil

oleh -

Detikkasus.com | Di daerah desa-desa yang masih kecil sering kali banyak warga yang mengalami gangguan mental, tetapi mereka yang mengalami gangguan mental tidak diberikan penanganan yang lebih lanjut, melainkan hanya dikunci di dalam rumah dan tidak di perbolehkan untuk keluar rumah. Lebih memprihatinkan lagi ketika yang mengalami gangguan mental tersebut “dikerangkeng atau dipasung” dengan diikat kakinya supaya tidak bisa keluar dan mengganggu aktivitas warga. Jika individu atau masyarakat mengalami sakit yang disebabkan oleh faktor fisiologis mereka cukup mendatangi klinik atau rumah sakit terdekat. Penyakit yang terjadi oleh faktor fisiologis ini pasti dapat ditangani oleh dokter yang semakin lama jumlahnya bertambah. Lalu bagaimana jika individu mengalami penyakit atau gangguan yang disebabkan dari faktor psikis? Tentu perlu dibawa ke Psikiater atau Psikolog. Jika dibandingkan dengan jumlah dokter yang ada saat ini, maka jumlah psikiater atau psikolog masih terbilang sangat sedikit. Pada masyarakat perkotaan tentu sudah sedikit banyak mengetahui apa itu psikolog dan sudah banyak pula yang menggunakan jasa psikologi untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan mulai dari masalah individu hingga permasalahan organisasi. Jika kita lihat di kehidupan desa, maka akan banyak yang belum mengetahui apa itu psikolog. Meskipun pada kenyataannya sudah banyak orang di desa yang mengidap gangguan mental tetapi tidak dirujuk ke psikiater atau psikolog karena keterbatasan pengetahuan. Masyarakat desa belum sadar pentingya layanan psikologi. Ini terbukti dengan ada beberapa orang yang mengidap ganggua jiwa tetapi justru “dikerangkeng” dengan mengikat kedua kakinya. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya layanan psikologi yang beridiri di sebuah desa, karena hingga saat ini pendirian layanan psikologi hanya ada di kota-kota besar saja dan tidak menyentuh pedesaan. Meskipun pendirian layanan psikologi bersifat individual atau oleh kelompok tetapi pemerintah harus bertindak langsung turun hingga ke desa untuk mendirikan layanan psikologi.
Pola pikir mengenai penyakit mental sangat sulit untuk diubah dan kurangnya pengetahuan yang menjadi faktor mengapa perbuatan seperti itu masih dilakukan. Pola pikir seperti itulah yang bisa dikatakan dengan pola pikir yang keliru. Seharusnya seseorang yang mengalami gangguan mental dirujuk ke rumah sakit jiwa, adapun cara yang sangat sederhana untuk dilakukan kepada penderita gangguan mental adalah dengan memberikan dukungan untuk kesembuhannya, atau paling tidak bisa membuat penderita merasa sendikit lebih baik. Karena pada dasarnya orang yang menderita gangguan mental adalah orang yang paling membutuhkan uluran tangan kita, sehingga tidak perlu dijauhi. Sementara itu solusi yang pernah ditawarkan hanya sebatas pada rujukan pada Rumah Sakit Jiwa (RSJ), namun sayangnya Rumah Sakit Jiwa hanya ada pada kota-kota besar di setiap Provinsi sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat desa. Berbeda jika kita lihat pada kesehatan fisik maka sudah banyak layanan kesehatan mulai dari lingkup daerah seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) hingga pada lingkup sempit seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) yang kini ada di setiap desa. Padahal kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik karena dewasa ini banyak penyakit fisik yang disebabkan oleh faktor psikis. Layanan psikologi ini dapat dilakukan di PUSKESMAS yang ada di setiap desa, atau jika diperlukan didirikan bangunan sederhana yang dapat menampung masyarakat banyak. Nantinya di setiap desa akan ditempatkan 2-4 orang praktisi psikologi yang akan diproyeksikan untuk memberikan layanann psikologi untuk masyarakat sekitar. Pendirian layanan psikologi ini diharapkan dapat menangani masyarakat yang merasa perlu untuk datang ke layanan tersebut. Tentu dengan gagasan tersebut diperlukan dukungan dari banyak elemen-elemen seperti pemerintah hingga masyarakat desa untuk tercapainya tujuan dari pendirian layanan psikologi yang ada di desa. Pemerintah dapat memberi bantuan baik itu berupa biaya operasional gedung maupun balas jasa yang akan diberikan kepada pemberi layanan psikologi. Hal ini tidak dapat tercapai jika tidak adanya bantuan dari pemerintah secara langsung, karena jika gagasan ini dilakukan oleh perseorangan akan sangat berat menjalaninya, perlu adanya dukungan antar banyak pihak. Sementara itu dukungan yang dapat diberikan oleh masyarakat sekitar adalah dengan menumbuhkan pemahaman mengenai pentingnya kesehatan mental. Banya cara yang dapat dilakukan (khususnya dengan bantuan pemerintah) untuk mencapai realisasi pendirian layanan psikologi di setiap desa. Pertama, kita perlu menyiapkan orang-orang (dalam hal ini praktisi psikologi) yang bersedia untuk ditempatkan di desa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pastikan pula biaya “imbalan” yang akan diberikan pemerintah kepada para praktisi ini. Hal tersebut penting karena pada zaman sekarang sangat sulit mencari orang (praktisi psikologi) yang bersedia untuk ditempatkan di desa, apalagi jika penghasilan mereka sebelum ditempatkan jauh lebih tinggi. Berbeda dengan profesi dokter yang harus mengabdi di masyarakat beberapa tahun. Kedua, perlu adanya peninjauan lokasi dimana mereka para praktisi akan memberikan pelayanan psikologi, apakah itu akan digabung dengan PUSKESMAS atau membuat bangunaan baru. Ketiga, perlu adanya sosialisasi secara maksimal kepada masyarakat sekitar tentang pentingnya pemeriksaan kondisi kesehatan jiwa. Jika hal-hal tersebut dilakukan secara maksimal maka akan memperbesar kemungkinan tercapainya tujuan setiap desa memiliki layanan psikologi sendiri.
Kesehatan mental adalah salah satu hal penting selain kesehatan fisik. Untuk itu perlu didirikan layanan psikologi di setiap desa untuk membatu masyarakat sekitar dalam kaitannya dengan kesehatan mental. Jika hal tersebut berjalan dengan dukungan penuh, baik itu dari pemerintah maupun masyarakat maka program ini akan berjalan secara maksimal. Ketika semuanya berjalan maksimal maka masyarakat sendiri yang akan merasakan sendiri manfaat dari didirikannya layanan psikologi ini seperti berubahnya pola pikir masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *