Posisi Dan Keradaan Netizen Dalam Konstruk Kondisi kesehatan Mental Seseorang.

oleh -

Detikkasus.com |
“Sudah gendut, jelek, hitam, banyak gaya lagi.”
“Ih sok suci, sok alim lu!.”
“Orang kayak gini buang ajalah jauh-jauh, nggak ada gunanya.”
“Dasar munafik, didepan aja baik eh taunya dibelakang busuk!.”
Merasa familiar dengan komentar-komentar itu? Di era teknologi seperti ini rasanya sering sekali kita menemukan komentar-komentar jahat seperti itu. Bahkan sampai terlintas dalam fikiran kita, kenapa sih dia sampai bisa berkata seperti itu, apakah dia memiliki dendam dengan orang itu? Kenapa komentarnya sejahat itu?. Sering kita jumpai di dunia maya komentar-komentar jahat seperti itu. Mulai dari menyindir, mengomentari penampilan, bahkan sampai menginginkan orang tersebut mati. Terkadang merasa miris ketika membaca komentar netizen dengan berbagai macam bentuk yang menyayat hati.
Sebenarnya siapa sih netizen itu? Netizen atau yang biasa disebut sebagai warganet adalah pengguna aktif internet yang yang memiliki kebebasan dalam berkomentar. Netizen yang baik akan menggunakan hak kebebasan berkomentarnya dengan bijak. Namun pada faktanya kita lebih sering menjumpai netizen-netizen yang kurang bisa menggunakan hak berkomentarnya dengan baik, tak jarang ditemui komentar-komentar netizen yang bersifat jahat, yakni memiliki tujuan untuk menjelek-jelekkan, meremehkan atau bahkan menjatuhkan objek yang dikomentari tersebut.
Ada pula netizen yang gegabah dalam menangkap suatu informasi dari konten tertentu. Mereka tidak mencari tahu terlebih dahulu mengenai kebenaran dari informasi tersebut, melainkan mengunggah atau menyebarkannya tanpa tau kebenaran dari informasi tersebut. Jika konten tersebut berisi tentang informasi yang salah,Hal inilah yang terkadang dapat memancing komentar-komentar buruk dari beberapa pihak dan tentunya akan merugikan pihak yang terlibat dalam konten tersebut.
Menurut pendataan dari Laporan Tetra Pax Index 2017, 132 juta masyarakat Indonesia merupakan pengguna internet, dan terdapat 106 juta masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial. Angka yang fantastis sehingga membuat Indonesia menempati peringkat ke 8 pengguna media sosial terbanyak di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan internet dan media sosial. Media sosial tentu saja memiliki manfaat yang baik, seperti sebagai alat komunikasi jarak jauh, media hiburan, dan sumber informasi.
Namun disisi lain, media sosial juga menimbulkan banyak persoalan-persoalan baru. Salah satunya adalah cyberbullying, yaitu membully dengan mengunggah postingan serta menjelek-jelekkan objek yang ingin jelekkan , dengan memberikan komentar pada suatu postingan dengan komentar yang jahat, atau dengan cara-cara lain yang ada di media sosial. Hal ini dimungkan karena dalam internet seseorang dapat menyembunyikan identitasnya, sehingga mereka dengan mudah mencaci maki tanpa merasa bersalah. Namun, komentarnya akan secara permanen berdampak negatif bagi objek yang dijelek-jelekkan.
Kasus cyberbullying di media sosial yang kita jumpai adalah komentar jahat. Komentar jahat adalah komentar yang dilontarkan kepada target untuk menjatuhkan harga dirinya dan menyakitinya secara psikis. Komentar jahat ini bisa dalam bentuk, mengolok-olok, meremehkan, ejekan, hinaan, pemberian label negatif, dan komentar-komentar lainnya yang bersifat menjatuhkan.
Masalah seperti ini tidak boleh dianggap remeh, karena terbukti telah memakan jiwa. Beberapa korban cyberbullying bahkan sampai bunuh diri akibat stress dan tekanan yang diterimanya melalui internet.
Tercatat ada beberapa korban bunuh diri yang diakibatkan oleh cyberbullying. Salah satunya adalah Megan Taylor Meier perempuan yang tinggal di Missouri, Amerika Serikat ini mengakhiri hidupnya dengan cara tragis, yakni dengan bunuh diri beberapa minggu sebelum ulang tahunnya. Setelah diselidiki, polisi menemukan bukti bahwa megan stress setelah mengalami cyberbullying lewat media sosial oleh temannya.
Komentar jahat dapat terekam dengan baik dan dilihat oleh banyak orang. Hal itulah yang membuat seseorang sampai bunuh diri dan merasa stress, karena ia sadar bahwa dirinya telah dihina didepan banyak orang. Keluarga , teman, dan orang-orang sekitarnya yang semula tidak tahu perbuatanya menjadi tahu, dan ada tekanan sosial disitu. Itulah yang menyebabkan seseorang menjadi stress dan mengalami efek yang lebih dalam dibandingkan dengan bullying secara verbal.
Menurut Samantha B. Saltz, dokter residen di bagian psikiatri anak dan remaja dari University of Miami Miller School of Medicine dan Jackson Memorial Hospital di Florida, para remaja yang merupakan korban dari cyberbullying umumnya lebih cenderung mengalami depresi sedang hingga berat, emosional, dan merasa tidak percaya diri.
Bahayanya, cyberbullying juga dikaitkan dengan penggunaan zat terlarang serta percobaan bunuh diri. Oleh sebab itu, tenaga profesional kesehatan perlu memahami dampak yang disebabkan oleh interaksi tidak sehat yang terjadi di lingkungan virtual terhadap kesehatan mental. Penggunaan zat terlarang ini dapat diakibatkan oleh rasa stress maupun depresi yang ia dapatkan dari komentar jahat di media sosial.
Netizen yang tidak menggunakan media sosial dengan baik akan mengunggah suatu konten tanpa harus menyaringnya, atau bahkan menjadikan media sosial sebagai wadah untuk dia menjatuhkan objek yang ingin dia jatuhkan melalui cyberbullying. Konten yang bersifat personal dan memiliki tujuan untuk menyakiti seseorang dapat mengakibatkan pembunuhan karakter terhadap objek yang menjadi topik pembahasan.
Oleh sebab itu, sebagai netizen yang baik biasakanlah untuk menyaring konten sebelum mengunggahnya atau menyebarkannya. Aktivitas cyberbullying terbukti dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan mental seseorang, terutama bagi remaja yang akrab dengan segala platform dunia maya. Mulai sekarang, mulai bijaklah dalam menggunakan media sosial dan mempertimbangkan konten sebelum mengunggahnya maupun menyebarkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *