Polemik Tanpa Narasi Yang Mencerdaskan Masyarakat Muna 

oleh -

Detikkasus.com| KENDARI

Pesta demokrasi yang akan dilangsungkan di Kabupaten Muna pada tahun 2020 kini sudah mulai menuai polemik dan perdebatan dimasyarakat, mulai dari wacana yang di lahirkan calon dan strategi yang dijalankan para kandidat serta munculnya berbagai kandidat baru yang mewarnai kancah perpolitikan di daerah yang terkenal dengan kekayaan hutan jati.

Berbagai kandidat lahir dan mulai menggeliat di kabupaten Muna, sepanjang wilayah masyarakat di suguhkan dengan berbagai baliho-baliho kandidat, mulai dari tokoh-tokoh lama yang menghiasi perpolitikan di kabupaten Muna sampai wajah baru yang ingin mengabdi kepada wilayah kelahiran mereka.

Munculnya berbagai tokoh ini membuat warna perpolitikan di kabupaten muna begitu sangat menarik untuk disimak, tidak kalah menarik ketika pada periode yg lalu daerah ini menyita perhatian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan melakukan pemilihan sampai ketiga kali yang mempertemukan dr. Lm. Baharudin M. Kes yang berpasangan dengan H. La Pili., S.Pd, sebagai petahana melawan Lm. Rusman Emba., ST. yang berpasangan dengan Drs. H. Malik Ditu.

Sebagai penantang, yang pada akhirnya di menangkan sang penantang LM Rusman Emba., ST. dan Drs. H. Malik Ditu.

Kini pemilihan orang nomor satu di daerah yang identik dengan Tugu Jati ini akan mempertemukan dua kandidat yang merupakan dua pimpinan kepala daerah, LM Rajiun Tumada yang merupakan bupati di Kabupaten Muna Barat (Mubar) mencoba melawan sang petahana LM. Rusman Emba, ST yang terkenal dengan tagline pariwisata “MAI TE WUNA”.

Beberapa bulan yang lalu, telah bermunculan berbagai baliho kandidat yang mencoba melakukan perkenalan diri kepada masyarakat kabupaten muna, dari berbagai baliho kandidat yang ada, ada salah satu baliho yang menarik perhatian masyarakat kabupaten muna dan menjadi polemik karena dianggap menggunakan tagline pariwisata kabupaten muna, adalah baliho LM Rajiun Tumada yang menggunakan tagline “AMAIMO PADA INI” yang disertakan dengan kalimat “MAI TE WUNA”.

Baliho tersebut beredar luas diwilayah kabupaten muna, hal tersebut tentu saja menuai polemik karena pemerintah kabupaten muna menganggap hal tersebut adalah pelanggaran terhadap Peraturan Daerah (Perda) yang menetapkan tagline tersebut sebagai upaya untuk promosi terhadap pariwisata yang dibangun tetapi dilain pihak ada juga yang menganggap bahwa ini adalah cara yang dilakukan oleh kandidat untuk ikut berkontribusi mengkampayekan pariwisata muna, tentu ini pandangan kelompok yang pro terhadap Bapak LM Rajiun Tumada.

Hal ini menggiring masyarakat yang mendukung dua kandidat saling berseteru diporos bawah, hal tersebut menjadi persoalan bagi kondusifitas masyarakat kabupaten muna, seperti peristiwa yang telah lalu masyarakat cenderung tidak memiliki orientasi dan cara berpolitik yang baik, perselisihan antar masyarakat tidak dapat terelakan, menghilangkan tali persaudaraan antar sesama keluarga hingga tidak sedikit yang berakhir dengan korban yang merugikan masyarakat muna baik dari segi materi dan kerugian sosial.

Hal seperti ini sangat kita sayangkan, apalagi ini justru dimulai dikalangan para elit politik yang seharusnya memberikan cara berpolitik yang baik terhadap masyarakat yang selalu berakhir dengan pertarungan yang dimenangkan salah satu figur pemimpin, masyarakat yang kecewa karena tidak kebagian “proyek” terhadap pemimpin yang didukungnya, pembangunan yang kita pertanyakan kemajuan nya untuk daerah yang kita cintai, masyarakat yang bingung untuk bekerja yang berakhir diperantauan untuk mendapatkan sesuap nasi, dan terakhir para tokoh-tokoh politik yang melakukan kunjungan kerja (bersama rombongan keluarga atau mungkin dengan istri muda) sedangkan sang penjual sayur bingung dengan “PASAR LAINO” yang tak kunjung selesai.

Untuk itu, masyarakat harus cerdas dan pandai melihat momentum lima tahun sekali yang menghabiskan energi yang kita miliki. Teringat ucapan “memimpin adalah jalan yang menderita” namun kini kalimat itu mungkin hanya harapan yang berakhir dengan angin lalu.

“Semoga ini mimpi yang terjadi siang hari saat kita semua menikmati secangkir kopi”

Dari, Jurawal

Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kendari. For Detikkasus.com (Edi Fiat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *