Olahraga Dapat Mengurangi Stres Pada Saat Pandemi Covid-19

oleh -

Detikkasus.com | Artikel
Pandemi Covid-19 saat ini menjadi salah satu krisis kesehatan utama bagi setiap individu dari semua bangsa, benua, ras, dan kelompok sosial ekonomi. Covid-19 menularkan virus dari satu individu ke individu yang lain dengan menunjukan gejala seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, sesak nafas, dan ada beberapa individu yang positif terkena Covid-19 tanpa gejala. Penularan Covid-19 menunjukan menifestasi klinis seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, sesak nafas, dan ada beberapa individu yang positif terkena Covid-19 tanpa gejala. Penatalaksanaan Covid-19 bersifat suportif, dan penyebab utama mortalitas adalah kegagalan pernafasan (Kemenkes RI, 2020).Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi, melalui surat edaran No.1 tahun 2020 pencegahan penyebaran penyakit Coronavirus (Covid-19) di perguruan tinggi di wajibkan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk memulai pembelajaran jarak jauh, atau dalam arti lain adalah seluruh mahasiswa diwajibkan untuk melakukan perkuliahan melalui daring (dalam jaringan). Pembelajaran yang harus menggunakan akses internet dengan aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas, dan kemampuan untuk menampilkan semua jenis interaksi pembelajaran disebut Pembelajaran daring. Pembelajaran daring yaitu pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan dosen untuk mewujudkan interaksi belajar dengan bantuan akses internet. Pelaksanaan pembelajaran daring harus memerlukan perangkat-perangkat mobile seperti smartphone, laptop, computer, tablet yang dapat untuk memudahkan mencari informasi dimana saja dan kapan saja.
Pembelajaran secara daring dapat terwujud dengan menggunakan berbagai bantuan media pendukung pembelajaran. Contohnya seperti aplikasi kelas-kelas virtual yang menggunakan layanan Google Classroom, Edmodo, sipejar, Schoology, dan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp. Terdapat kendala yang dihadapi dunia pendidikan selama pandemik Covid-19 yaitu 1) pemahaman guru atau dosen yang terbatas tentang internet 2) kurang memadainya saran dan prasarana; 3) terbatasnya akses internet; 4) tidak siap dana pada kondisi darurat (Syah 2020). Keterbatasan dana pembelajaran online merupakan tantangan lain yang dihadapi mahasiswa, yaitu mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli kuota data internet. Menurut mahasiswa, pembelajaran dalam bentuk video conference menghabiskan kuota data yang besar, sedangkan diskusi online melalui aplikasi instant messaging tidak membutuhkan kuota yang terlalu banyak. Rata-rata siswa menghabiskan Rp. 50.000-Rp. 80.000 per-minggu, tergantung provider ponsel yang digunakan. Pembelajaran menggunakan metode pembelajaran jarak jauh dan teknologi internet selama pandemi Covid-19 menimbulkan kecemasan atau stres bagi sebagian siswa yaitu mereka harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli kuota data internet. Bagi mahasiswa, rasa bosan selama perkuliahan daring bisa dirasakan karena terlalu monoton, intonasi yang kurang bervariasi, dan tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan teman dan pengajar. Rasa kesepian berpengaruh terhadap kejenuhan belajar. Selain itu sistem pembelajaran yang kurang efektif dapat menyebabkan penyampaian materi sulit untuk dipahami. Setres merupakan ketidakmampuan mengatasi tekanan atau ancaman yang dihadapi secara mental, fisik manusia tersebut yang dapat menyerang secara mental, emosional, fisik atau spiritual (Candra 2017).
Mencari cara untuk mengelola stres adalah bagian yang penting untuk menjaga diri kita sendiri, salah satu cara terbaik untuk mengelola stres yaitu melakukan olahraga secara teratur. Aktivitas fisik pada masa pandemik Covid-19 yang harus dilakukan adalah olahraga, walaupun bekerja dan belajar dari rumah masyarakat harus tetap aktif. Social distancing cenderung membuat seseorang memiliki gaya hidup kurang gerak, studi menunjukkan bahwa imunitas tubuh menjadi turun karena gaya hidup yang kurang gerak sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi virus (Perhimpunan Dokter Spesialis Keolahragaan, 2020). Adapun olahraaga seperti Latihan anaerobik maupun aerobik bisa mengurai tingkatan stres yang terjadi pada mahasiswa dan memiliki efek menguntungkan pada metabolisme lipid didalam tubuh. Latihan anaerobik telah terbukti memiliki pengaruh positif pada profil lipid. Keuntungan yang diperoleh dari latihan fisik berasal dari peningkatan curah jantung dan peningkatan kemampuan otot yang bekerja dan memanfaatkan oksigen dari darah.Manfaat lain dari latihan fisik adalah efeknya pada peningkatan kadar kolesterol HDL dan penurunan trigliserid, yang keduanya berakibat pada penurunan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Manfaat lain olahraga yang diperoleh adalah peningkatan sensitivitas insulin, peningkatan fungsi kognitif, peningkatan respons terhadap stres psikososial, serta pencegahan depresi. Manfaat-manfaat ini sungguh penting di masa pandemi COVID-19 ini, karena penurunan risiko penyakit kardiovaskuler dan metabolik tentunya akan menurunkan tingkat keparahan dari COVID-19 dan memperbaiki kualitas hidup pada umumnya. Olahraga rutin juga bermanfaat dalam memperbaiki kualitas tidur dan melindungi tubuh melawan COVID-19 dengan cara meningkatkan elemen-elemen imunitas tertentu (khususnya olahraga aerobik) yang memicu mobilitas limfosit, dan menurunkan tingkat keparahan penyakit.
Melihat pentingnya menjaga hidup sehat dan berbagai manfaat positif dari olahraga rutin, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, olahraga apa yang baik dan aman untuk dilakukan selama pandemi ini? Sementara penjarakan fisik dan isolasi mandiri masih banyak diperlukan untuk membatasi penyebaran virus SARS Cov-2. Pesan yang perlu ditekankan dan diperhatikan adalah keseimbangan antara manfaat aktifitas fisik/olahraga dan risiko terkena infeksi saat olahraga, jadi kewaspadaan terhadap transmisi virus SARS Cov-2 tetap dilakukan antara lain yaitu dengan tetap memberikan penjarakan fisikBeberapa penelitian melaporkan bahwa olahraga dalam ruangan (indoor) lebih besar risiko tertular infeksi virus ini, seperti kondisi ruang tertutup, banyaknya orang yang berada dalam ruangan olahraga, makin mempermudah terjadinya transmisi. Sehingga sangat perlu protokol yang ketat dan tepat antara lain menghindari kontak fisik atau terlalu dekat dengan orang lain ataupun dengan benda-benda yang bisa terkontaminasi.Mempertimbangkan bahwa penularan COVID-19 dari manusia ke manusia melalui droplet maka banyak negara menggunakan patokan penjarakan fisik yang banyak diadopsi adalah 1.5meter antar orang.
WHO (World Health Organization) merekomendasikan latihan fisik selama 150-an 300 menit dengan intensitas sedang atau 75-150 menit dengan intensitas berat, atau kombinasi diantara keduanya per minggu. Olahraga seperti ini dapat dilakukan di rumah walau tanpa bantuan alat sekalipun, bahkan di ruangan terbatas, bukan ruang olahraga ataupun di pusat kebugaran Berikut beberapa tips supaya tetap aktif dan mengurangi perilaku santai (sedentary) yaitu mengambil waktu sesaat untuk beraktifitas fisik rutin tiap hari misal menari, bermain dengan anak, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari seperti membersihkan rumah, atau berkebun. Prinsipnya adalah tetap beraktifitas fisik walaupun di rumah. Bisa juga melakukan olahraga sendiri di rumah dengan panduan kelas olahraga online yang banyak kita temui di YouTube. Aktifitas sederhana seperti jalan di tempat dalam jangka waktu tertentu, atau berjalan di sekeliling rumah, mengurangi banyak duduk dan berbaring, dan selalu mengusahakan untuk bangun berdiri setiap 30 menit dari posisi duduk.Contoh olahraga dengan intensitas sedang antara lain jalan cepat, tenis ganda dan bersepeda dengan kecepatan dibawah 16 km/jam. Sedangkan hiking, tennis tunggal, berenang beberapa kali putaran, loncat tali, dan bersepeda dengan kecepatan 16 km/jam atau lebih termasuk olahraga aerobik dengan intensitas berat.(6) Sedangkan olahraga yang bisa dilakukan sendiri di rumah sekedar untuk menjaga tubuh tetap aktif misalnya dengan melakukan beberapa set gerakan olahraga rutin seperti angkat lutut ke siku yang berlawanan selama 1-2 menit dan diulang hingga 5 kali dengan diselingi istirahat 30-60 detik. Plank yaitu kedua lengan bawah di lantai menyangga tubuh dengan posisi siku tegak alurus dibawah bahu, pinggang ditahan setinggi kepala dan tahan posisi ini selama 20-30 detik atau lebih bila kuat dan diulang hingga 5 kali dengan diselingi istirahat 30-60 detik. Gerakan ekstensi ke belakang (back extension), squat dan berbagai gerakan latihan otot-otot ekstremitas, punggung, dan abdomen dapat dilakukan dengan repetisi, dan diakhiri dengan pendinginan yaitu duduk bersila di lantai dengan posisi seperti meditasi sehingga berguna untuk relaksasi dan menurunkan stres.
Khusus mengenai pemakaian masker makaWHO tidak menyarankan memakai masker saat aberolahraga karena masker dapat mengurangi kemampuan bernafas dengan nyaman, sedangkan keringat yang dihasilkan saat berolahraga menyebabkan masker menjadi basah dan lembab sehingga makin sulit bernafas, selain juga justru mendorong pertumbuhan mikroorganisme oportunis. Tindakan pencegahan yang paling penting saat berolahraga adalah menjaga jarak fisik sesuai rekomendasi. Olahraga sangatlah bermanfaat bagi kesehatan fisik maupun mental, namun pelaksanaannya dalam masa pandemi ini tetap harus dengan cara yang aman dan tepat untuk mengurangi masifnya penyebaran COVID-19.

 

 

 

Daftar Rujukan
Alfarisi, R., Sandayanti, V. dan Feryaldi, A. Y., 2019. Hubungan Aktivitas Olahraga Dengan Toleransi Stres pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung. Jurnal Dunia Kesmas, 8(2), Pp. 80-85.
Setyawan, I. A., Setiawati, O. R., Dharmawan, A. K., & Pramesti, W. (2021). Pengaruh Stres dengan Perilaku Olahraga Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Selama Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(1), 241-247.
Setyaningrum, D. A. W. (2020). Pentingnya olahraga selama pandemi COVID-19. Jurnal Biomedika dan Kesehatan, 3(4), 166-168.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.