Miris, PAUD Kartika Kencana Kedungombo Tak Layak Huni, Puluhan Anak Terpaksa Belajar di Tengah Lingkungan Kotor

Jombang | Detikkasus.com – Kondisi memprihatinkan kembali mencoreng wajah pendidikan anak usia dini di Kabupaten Jombang. PAUD Kartika Kencana yang berada di Desa Kedungombo, Kecamatan Ploso, kini berada dalam situasi yang jauh dari standar kelayakan sebagai tempat belajar anak-anak. Bangunan sederhana dengan dinding mulai kusam, cat yang mengelupas, serta pintu kayu yang tampak rapuh berdiri di tengah lingkungan yang tidak terawat. Halaman sekolah justru dipenuhi tumpukan sampah plastik, dedaunan kering, dan rumput liar yang tumbuh tak terkendali.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin, 26 Januari 2026 sekitar pukul 10.13 WIB di Jalan Bima No.12, Kedungombo, pemandangan tersebut memperlihatkan betapa minimnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan usia dini. Sejumlah alat permainan edukatif anak terlihat masih berdiri, namun dikelilingi sampah dan tanah becek. Kondisi ini tentu sangat tidak ideal bagi aktivitas belajar maupun bermain anak-anak yang seharusnya berlangsung di lingkungan bersih, sehat, dan aman.

Ironisnya, di tempat inilah puluhan anak setiap hari menimba ilmu sebagai bekal awal perjalanan pendidikan mereka. Alih-alih mendapatkan suasana yang ceria dan nyaman, para murid justru harus berhadapan dengan lingkungan yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.

Sampah yang berserakan tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga berisiko menjadi sarang penyakit.
Kepala Desa Kedungombo, Lasiman, mengakui secara jujur bahwa kondisi gedung PAUD Kartika Kencana memang sudah tidak layak. Namun keterbatasan anggaran desa membuat pihaknya belum mampu melakukan perbaikan secara maksimal.

Ia menjelaskan bahwa pada tahun anggaran ini, dana desa sudah banyak terserap untuk berbagai kebutuhan dan program prioritas lainnya. Selain itu, adanya program KDMP serta minimnya alokasi dana desa dari pemerintah pusat semakin mempersempit ruang fiskal desa untuk membangun atau merenovasi gedung PAUD.

Menurut Lasiman, pihak desa sebenarnya memiliki keinginan besar untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak Kedungombo. Namun realita keuangan desa tidak memungkinkan untuk membiayai pembangunan gedung PAUD yang memadai.

Oleh karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Jombang, khususnya Dinas Pendidikan, dapat turun tangan secara langsung memberikan bantuan pembangunan atau renovasi gedung PAUD.

Ia menilai bahwa pendidikan anak usia dini merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah desa, melainkan juga pemerintah daerah dan pusat.

Tanpa dukungan dari pihak kabupaten, kondisi seperti yang dialami PAUD Kartika Kencana dikhawatirkan akan terus berlarut-larut.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Kartika Kencana, Ari Susanti, turut menyampaikan keresahan yang selama ini dipendam para tenaga pendidik. Ia mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada respons nyata terkait perbaikan gedung sekolah.

Meski begitu, Ari mengapresiasi perhatian dinas pendidikan yang telah membantu penyediaan sarana alat permainan edukatif, baik untuk di dalam maupun di luar ruangan, pada tahun ini. Namun ia menegaskan bahwa bantuan tersebut belum cukup jika bangunan utama sekolah tetap dalam kondisi tidak layak.

Menurutnya, sarana bermain yang bagus tidak akan optimal jika lingkungan belajar masih kotor dan gedung sekolah hampir tidak memenuhi standar keselamatan.

Lebih memprihatinkan lagi, PAUD Kartika Kencana saat ini memiliki total 31 murid yang harus dibagi di dua lokasi berbeda dengan jarak sekitar satu kilometer. Salah satu gedung dinilai lebih layak, namun ukurannya sangat kecil sehingga tidak mampu menampung seluruh siswa.

Akibat keterbatasan ruang tersebut, proses pembelajaran menjadi kurang efektif. Guru harus berpindah-pindah lokasi, sementara anak-anak harus menyesuaikan diri dengan kondisi gedung yang berbeda.

Situasi ini tidak hanya merepotkan, tetapi juga menunjukkan betapa minimnya infrastruktur pendidikan dasar di wilayah pedesaan.
Selain persoalan gedung, Ari Susanti juga menyoroti kondisi kesejahteraan guru PAUD yang masih jauh dari kata layak.

Para guru selama ini hanya mengandalkan pemasukan dari uang SPP anak-anak, yang jumlahnya relatif kecil.
Di samping itu, memang ada insentif dari pemerintah, namun pencairannya dilakukan setiap tiga bulan sekali, sehingga tidak dapat diandalkan sebagai penghasilan rutin bulanan.
Bersama guru PAUD lainnya se-Kabupaten Jombang, Ari mengaku terus memperjuangkan agar pemerintah memberikan tunjangan tetap setiap bulan bagi tenaga pendidik PAUD.

Menurutnya, peran guru PAUD sangat krusial dalam membentuk karakter dan kecerdasan anak sejak usia dini, sehingga sudah selayaknya mendapat perhatian lebih serius dari negara.

Kondisi PAUD Kartika Kencana Kedungombo sejatinya hanyalah satu contoh kecil dari persoalan besar pendidikan usia dini di daerah. Di tengah gencarnya program pemerintah tentang pembangunan sumber daya manusia unggul, masih banyak anak yang belajar di fasilitas yang jauh dari standar kelayakan.
Ketimpangan ini menunjukkan adanya jarak yang cukup lebar antara kebijakan di atas kertas dengan realita di lapangan.

Sementara pembangunan infrastruktur besar terus digalakkan, sektor pendidikan dasar di pelosok desa justru sering terpinggirkan.
Lingkungan sekolah yang dipenuhi sampah dan bangunan yang rusak seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Jika sejak usia dini anak-anak sudah terbiasa belajar dalam kondisi serba kekurangan, maka mimpi mencetak generasi unggul akan sulit terwujud.

Masyarakat Desa Kedungombo kini hanya bisa berharap agar jeritan mereka benar-benar sampai ke telinga para pemangku kebijakan di Kabupaten Jombang. Mereka menantikan langkah nyata, bukan sekadar janji, untuk menghadirkan gedung PAUD yang layak, bersih, dan aman bagi anak-anak.

Sebab di balik tembok kusam dan halaman penuh sampah itu, ada puluhan anak kecil yang menyimpan harapan besar untuk masa depan yang lebih cerah melalui pendidikan.

(Jum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *