Kemasyhuran di Hadapan Mahluq ( Manusia ) Adalah sebuah Hayalan Belaka

oleh -

Detikkasus.com | Risalah Islami

Pada suatu malam, Sekh Jalaluddin Al Rumi mengundang Mursyidnya (Guru spiritual) Syamsuddin Al Tabrizi ke rumah.

Sang Mursyid menerima undangan itu dan datang ke kediaman Al Rumi.

Setelah semua hidangan makan malam siap, gurunya meminta sesuatu kepada Al Rumi :

“Bisakah kau menyediakan minuman untukku..?.”
Yang di maksud oleh sang Mursyid adalah Khamer/Arak.

Al Rumi kaget mendengarnya :
“Memangnya anda juga minum..?” Jawab gurunya : “Iya.”
Al Rumi masih terkejut

” Maaf, saya tidak mengetahui hal ini.”

San guru berkata :
“Sekarang kau sudah tahu..
Maka sediakanlah..”

“Malam-malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak..?”, kata Al Rumi.

Sekh Syams berkata :

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya “.

Al Rumi berkata :
“Kehormatanku di hadapan para pembantuku (Muridku) akan hilang.”

Mursyidnya berkata :

” Kalau begitu kau sendiri yang pergi keluar untuk membeli minuman “.

Al Rumi mengelak lagi :

“Seluruh kota mengenalku.. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman..?”

Lalu sang Guru berkata :

“Jika kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan..”
Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaannya kepada sang Mursyid, Akhirnya Al Rumi memakai jubahnya dan menyembunyikan botol di balik jubah dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sebelum ia masuk ke pemukiman nasrani tersebut, penduduk sekitar tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya

Namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan Akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Al Rumi masuk ke sebuah kedai arak.
Ia terlihat mengisi botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi dibalik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia di ikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak.
Hingga sampailah Al Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak :

” Wahai manusia, Syeikh Jalaluddin yang setiap harinya menjadi imam sholat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman “.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Al Rumi.

Khalayak ramai akhirnya melihat botol yang di pegang Al Rumi..

“Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini..?!
” Ia membeli arak dan akan dibawa pulang”.
Lalu orang itu menambahi siarannya.

Dengan spontan Orang-orang penduduk sekitar bergantian meludahi muka Al Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Al Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan

Akhirnya orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka di tipu oleh kebohongan Al Rumi tentang Zuhud dan Taqwa yang diajarkannya.

Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Al Rumi, Hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara Syamsuddin Al Tabrizi :

“Wahai orang-orang tak tahu malu..
Kalian telah menuduh seorang Alim dan Faqih dengan tuduhan meminum Khomr.
” Ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah Cuka untuk bahan Masakan..”

Seseorang dari mereka masih mengelak, ini bukan cuka..ini arak “.

Sekh Samsuddin kemudian mengambil botol dan membuka tutupnya.
Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya.

Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka.
Mereka memukuli kepala mereka sendiri lalu bersimpuh di kaki Al Rumi.

Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Al Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Al Rumi berkata pada gurunya :

“Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai Kehormatan dan Nama baikku sendiri.
” Apa maksud dari semua ini..?”

Sekh Syam menjawab :

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata..”
Kau pikir penghormatan di hadapan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi..??!

” Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu..”

” Inikah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat..?!

” Maka bersandarlah pada yang tidak Tergoyahkan oleh waktu dan Tidak terpatahkan oleh Perubahan Zaman..
Maka Bersandarlah hanya kepada Alloh..”

{ A.R }

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *