Hasil Pembangunan Preservasi Badan Jalan Dan Jembatan.

Yang Di kerjakan Oleh Pihak Rekanan Kontraktor PT. Pantan Cuaca, Di Gayo Lues Diduga Asal Jadi Saja Dikerjakan.

Aceh |Detikkasus.com -Masyarakat gayo lues (galus) sangat senang dengan adanya pembangunan preservasi jalan dan jembatan yang sebelumnya rusak, namun harapan masyarakat galus itu. Seperti menelan air ludah pahit, apa bila saat melintas jalan yang sedang dikerjakan. 

Pasalnya, hasil pembangunan pelaksanaan pekerjaan badan jalan dan jembatan itu seperti tidak serius dan tak sesuai yang di harapkan masyarakat, sekilas pekerjaan itu nampak seperti asal jadi, bahkan seperti semerawut, matrial yang berserakan juga jalan jadi berdebu, pekerjaan nya pun diduga tidak sesuai spek serta juga asal jadi saja dikerjakan.

Terlihat dalam pekerjaan Rigit Pavement yang tidak menggunakan besi, bahkan nampak seperti tidak digali terlebih dahulu saat akan di cor, bahkan tidak ada terlihat Mesin Stamper Kuda (Compact) untuk pemadat tanah. 

Terlihat coran rigit pavement nya seperti rapuh atau kurang kekerasan nya,  bahkan dalam pengadukan semen dan matrial campur langsung ke mobil molen,  tanpa menggunakan Batching Plant. 

Awak media yang melintas dilokasi proyek tersebut merasa curiga dengan pekerjaan rigit pavement nya,  karna nampak seperti pekerjaan rabat beton yang biasa dikerjakan untuk jalan ke kebun, sehingga salah satu awak media mencoba mengambil coran semen rigit pavement dengan tangan,  saat di kepal beton tersebut hancur. 

Padahal proyek ini proyek Nasional yang dikerjakan oleh PT. Pantan Cuaca, Konsultan Supervisi PT. Laras Sembada, KSO – CV. Multi Partner Consultan, dengan Nomor Kontrak : HK. 02.01/CTR-Bb1.PJN.III/02/APBN/2024, Nama Paket Preservasi Jalan dan Jembatan, Sumber Dana APBN, Harga Kontrak Rp.  6.029.459.737,- Tanggal Kontrak : 26 Februari 2024 tidak ada tertulis di papan nama Tanggal Akhir Kontrak nya. 

Juga di saat pekerjaan jalan dan jembatan berlangsung tidak ada yang mengatur arus lalu lintas apabila banyak kenderaan yang akan lewat, bahkan pekerja juga ada yang tidak menggunakan K3 (Safety) seperti helm atau yang lainnya, padahal tingkat resiko kecelakaan pekerjaan itu sangat tinggi. 

Awak media ini mencoba mengkonfirmasi pelaksana proyek tersebut dengan mendatangi kantornya, namun tidak ada pimpinan atau pun yang mewakili pimpinan untuk di wawancarai, sehingga awak media mencoba  meminta nomor whatsapp salah satu pimpinannya. 

Saat dihubungi awak media melalui whatsapp salah satu pimpinannya yang bernama Samsir,” Pak Samsir pekerjaan rigit pavement nggak pakek besi.? beliau tidak menjawab, kenapa pengadukan semen nya tidak memakai batching plan.? Tidak di jawab juga dan akhir nya awak media mempertanyakan kekerasan beton, lebar dan ketebalan beton, Samsir menjawab Ketebalan 20 Cm,  kekerasan beton fc 20 mpa,” ujarnya. 

Dan selanjutnya awak media mencoba bertanya lebih lanjut,” biasanya untuk ketebalan rigit pavement 29 Cm Pak Samsir,  namun Samsir tak menjawab lagi,  sehingga awak media merilis berita ini seperti yang diketahui saat berada dilokasi proyek.

Terkesan pelaksanaan proyek Preservasi Jalan dan Jembatan tersebut ingin meraup keuntungan besar, seperti banyak kekurangan bahan dalam proses pembuatannya. 

Semoga ini menjadi perhatian khusus bagi APH yang terkait juga pihak pemerintah pusat turut terjun langsung dalam pengawasan, agar tidak merugikan masyarakat dan anggaran negara yang digunakan.

(Jihandak Belang/Team)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *