Generasi Milenial Jenuh? Literasi Jawabannya.

oleh -

PENULIS : PRILY SALMA AZZAHRAH
FKIP/B.INDONESIA
ANGKATAN 2018/2019
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Detikkasus.com | Generasi milenial biasa disebut anak muda adalah tahun shio (naga). Generasi saat ini sangat berpengaruh sekali pada dunia pendidikan, rata-rata cenderung beperilaku pragmatis dan instan.
Media dengan perkembangan teknologi menjadikan kehidupan anak dan remaja menyatu dengan media sosial dan digital dalam internet. Anak dan remaja yang masih dalam pertumbuhan, selalu tertarik untuk mencoba informasi atau sesuatu yang baru dan tidak begitu tahu apa akibatnya. Anak dan remaja diarahkan untuk memanfaatkan internet sebagai sumber infromasi yang bermanfaat dalam belajar dan bukan hanya memilih informasi yang diinginkan dan menyenangkan saja. Setiap hari anak dan remaja selalu dekat dan mengkonsumsi produk media elektonik. Mereka lebih banyak belajar dari media ini dibandingkan belajar dari orangtua. Realitas selanjutnya, masyarakat tidak banyak mengharapkan pendidikan dari media tersebut, padahal media elektronik berfungsi sebagai media informasi, pendidikan dan hiburan.
Sekarang ini rata-rata generasi milenial mengartikan bahwa membaca itu membosankan. Padahal jika kita memahami apa arti membaca dan mengerti membaca itu sangatlah menyenangkan. Apalagi jika aktivitas membaca itu menyita waktu yang sangat banyak, dan anda tidak paham juga. Membaca mungkin bukanlah hal paling menarik yang bisa Anda lakukan hari ini, tetapi mau bagaimana pun, Anda tetap harus membaca. Meskipun ini sesuatu yang penting, mudah sekali bagi kita untuk menjadi bosan ketika membaca. Mereka cenderung tertarik untuk menjaga image di hadapan orang lain dalam hal membaca, dan merasa bahwa hidup mereka akan terasa kurang sempurna jika tanpa gaya.
Budaya literasi merupakan cerminan kemajuan bangsa, seperti pendapat Taufik Ismail, “Sebuah bangsa besar tanpa tradisi literasi hanya akan menjadi bangsa kelas teri, perundung, pemaki, mudah diprovokasi, tanpa keluasan hati dan imajinasi.” Seorang sastrawan yang cukup terkenal di negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Kata-kata tersebut cukup membuat kita sadar bahwa budaya literasi sangat penting dalam kehidupan masyarakat kita terutama pada kaum intelektual.
Banyak masyarakat menganggap, bahwa buku atau kebiasaan membaca dan menulis hanya identik dengan kaum terpelajar saja. Padahal tidak ada aturan bahwa buku itu hanya untuk kaum terpelajar melainkan untuk semua kalangan. Di negara berkembang seperti Indonesia, budaya literasi seakan tidak ada dalam sejarah masyarakat Indonesia. Padahal banyak hal yang menjadi faktor pendukung tradisi literasi di Indonesia berkembang maju. Salah satunya adanya perpustakaan umum di berbagai daerah guna meningkatkan pengetahuan masyarakat. Kemudian adanya perpustakaan keliling guna menjangkau daerah-daerah yang belum terdapat pepustakaan. Bahkan pasti di setiap sekolah terdapat perpustakaan sebagai bahan referensi penunjang akademik.
Zaman makin maju belum tentu makin baik. Orang makin kaya belum tentu makin peduli. Teknologi makin hebat belum tentu pengetahuan makin dahsyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *