Egoisme Memperparah Keadaan Pandemi

oleh -10 views

Detikkasus.com | Artikel

Sudah beberapa bulan terakhir ini pergerakan kita dibatasi oleh pemerintah. Semua ini disebabkan oleh pandemi virus corona atau Covid-19 yang penyebarannya sangat cepat padahal virus tersebut tergolong baru berdasarkan laporan pada akun twitter @BNBP Indonesia , selasa 19 mei 2020 tercatat ada 486 kasus baru sehingga total virus corona di Indonesia menjadi 18.496 orang untuk jumlah pasien yang dinyatakan sembuh bertambah 143 orang total pasien sembuh yakni 4.467 orang sedangkan 1.221 pasien positif coronqa dilaporkan meninggal dunia. Hal itu menyebabkan virus ini sulit untuk dideteksi, namun saat ini pemerintah sudah menerapkan beberapa kebijakan untuk menekan angka penyebaran dari virus corona. Penelitian tentang virus corona juga dilakukan semenjak media sosial dan media cetak mengabarkan bahwa virus ini memasuki negara Indonesia dan ada yang sudah terinfeksi positif oleh virus yang satu ini. Beberapa warga Indonesia pun mulai mencari cara agar rasa aman dan kenyamanan mereka tidak direnggut oleh virus corona tapi sayangnya, masih ada beberapa pihak yang terlihat santai dalam menghadapi wabah ini. Eksistensi mereka masih bisa dilihat dalam kerumunan di tempat-tempat umum, mereka juga masih banyak yang terlihat berkumpul dengan kelompoknya masing – masing entah untuk mendiskusikan negeri ini, atau mungkin hanya mengobrolkan hal-hal yang terdengar asik, dan membuat mereka bisa melepas sejenak kepenatan yang dialami karena merasa bosan melakukan aktifitas sehari – hari seperti kuliah ataupun bekerja dari rumah sesuai kebijakan pemerintah. Tetapi dibalik kesantaian masyarakat Indonesia ini, mereka juga terkadang emosi dan menyalahkan berbagai pihak jika terjadi sesuatu yang tidak sejalan dengan pemikirannya.

Tipe masyarakat ini cenderung lebih memperhatikan kebahagiaannya sendiri tanpa melihat lingkungan sekitarnya dan mereka cenderung enggan untuk bekerjasama dan berkontribusi demi kebaikan bersama. Padahal untuk menanggulangi musuh yang tidak terlihat oleh mata telanjang ini, kita memerlukan kerjasama antar individu untuk saling menjaga agar penyebaran virus ini bisa dihentikan akibatnya, setelah banyak korban berjatuhan dan data menyebutkan sudah banyak orang terinfeksi mereka baru menyadari dan mulai tergerak hatinya untuk mematuhi aturan dari pemerintah. Namun masih saja ada orang yang memang asik untuk mengobrol di warung kopi atau tempat umum lainya hanya untuk memenuhi hasratnya sendiri. Perilaku yang demikian itu salah satu contoh dari teori egoisme. Menurut Friedrich Wilhem Niezstche, egoisme atau egoitisme berprinsip bahwa setiap orang itu harus bersifat keakuan, yaitu melakukan segala sesuatu yang bertujuan memberikan manfaat kepada dirinya sendiri. Selain itu setiap perbuatan yang menguntungkan itu adalah perbuatan yang baik dan sesuatu yang buruk itu jika hasil dari perbuatan yang dilakuan merugikan dirinya sendiri (Niezstch, 1997). Tidak salah memang jika mereka mementingkan dirinya sendiri karena menurut Niezsctche untuk dapat bersikap optimis dalam merayakan kehidupan (dengan segala kebusukannya) seseorang harus memiliki hasrat untuk hidup yang tidak pernah hilang selama egoisme masih di pegang. Namun dalam kasus ini kita harus mempertimbangkan lagi, apakah sikap egois kita sesuai dengan apa yang dikatakan Nietzstche yaitu menguntungkan diri kita atau malah sebaliknya? ini yang harus diperhatikan oleh setiap individu, seharusnya mereka tidak mengabaikan berita dan menyepelekan penyebaran virus corona. Mereka sebagai masyarakat harus sadar akan resiko yang ditimbulkan agar tidak menyesal dan merasa dirugikan akan adanya wabah ini, karena ujung-ujungnya pasti pemerintah lagi yang akan disalahkan dan mulai marah-marah di media sosial. Kita memang dianjurkan santai dan tenang dalam menghadapi wabah ini, namun bukan berarti mengabaikan anjuran pemerintah yang tujuannya untuk kebaikan masyarakatnya. Kepanikan dalam menyikapi wabah yang terjadi tidak dianjurkan karena hal tersebut akan meracuni pikiran kita kemudian mendorong kita melakukan hal – hal yang terkesan individual seperti menimbun masker dan hand sanitizer yang bertujuan untuk melindungi diri sendiri dan mempersiapkan kebutuhan untuk kelangsungan hidup kedepannya. Hal semacam itu tentu akan menyebabkan terjadinya kelangkaan barang dan melonjaknya harga barang, padahal tenaga medis yang bekerja di garda paling depan sangat membutuhkan barang – barang tersebut.

Pada hakikatnya memang manusia itu ingin merasa aman dan tentram sehingga terjadi panic buying dengan alasan ingin aman dan juga agar tidak rumit, jika ada kebijakan dari pemerintah yang membatasi pergerakan individu tersebut, pada akhirnya muncul masalah baru. Hasilnya, jadi banyak orang yang benar-benar membutuhkan tidak bisa mendapatkan barang tersebut, karena barang tersebut langka atau bisa jadi mengalami kenaikan harga yang tinggi, sehingga orang yang sangat membutuhkan tersebut tidak dapat mendapatkannya. Sifat egoisme seperti ini harus dihilangkan dalam diri kita, dan kesadaran harus dibangun dari diri kita pula untuk menciptakan ketentraman bersama.

Egois memang salah satu sifat yang pasti ada di dalam setiap individu. Tidak bisa disalahkan jika seseorang bertindak ingin mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Namun, kita harus memikirkan dampak kedepannya yang akan terjadi atas semua tindakan yang kita lakukan saat ini, apa masih menguntungkan untuk kita? Pertanyaan yang demikianlah yang harus kita pertimbangkan. Untuk melawan wabah yang sedang terjadi saat ini kita perlu membangkitkan budaya gotong royong dan saling tolong menolong. Agar masalah yang kita alami saat ini bisa cepat diatasi dan terselesaikan.

 

Niken Puspasari /Ilmu Pemerintahan B/ 201910050311056

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *