Dugaan Pencabulan Oknum Guru Terhadap Anak Didiknya Sendiri

Labuhanbatu Utara l Detikkasus.com
Terjadinya pencabulan dalam dunia pendidikan yang di lakukan oleh seorang pendidik atau seorang guru, sungguh sangat memperihatinkan, hal ini di duga di lakukan oleh salah seorang oknum guru yang mengajar di SMP Negeri 3 Tanjung pasir, kecamatan Kualuh Selatan, Labuhanbatu Utara berinisial (JS) terhadap salah seorang anak didik nya bernama Neni Fani (NF), yang bukan nama sebenarnya.

Tindakan dugaan pencabulan itu dilakukan di komplek sekolah tersebut.

Sesuai konfirmasi, Selasa,21/12/2021 terhadap kepala sekolah SMP Negeri 3 Tanjung pasir, Sutrisman. S.Pd,. M.Si.

Perbuatan cabul seorang guru adalah suatu perbuatan yang tidak bermoral, dan telah mencoreng dunia pendidikan ,mencoreng profesi seorang guru,selain itu telah menghancurkan masa depan anak didik nya yang menjadi korban pencabulan.

Kita tau bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membingbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dalam kamus bahasa Indonesia, cabul di artikan sebagai: Keji dan kotor, tidak senonoh, melanggar adat, dan susila, melanggar kesopanan.

Untuk menindak lanjuti dugaan perbuatan oknum guru tersebut, Rabu, 22/12/2021, awak media melakukan konfirmasi ke kantor dinas pendidikan Labura , namun kepala dinas pendidikan tidak ada di
tempat, Pak kadis tidak ada di sini sedang ada urusan di luar, ujar salah seorang pengawai.

Konfirmasi di lakukan via hand phone, dan di sambut baik oleh kepala dinas pendidikan, H.Suryaman, M.Pd. ketika di tanya tanggapan beliau tentang dugaan pencabulan ini, “Kita kan harus azas praduga tak bersalah juga, tapi kita akan tetap proses, sementara yang bersangkutan kami kandangkan dulu lah, tidak kami kasih ngajar di sekolah sebelum proses dengan pihak Aparat Penegak Hukum (APH) belum selesai atau pun dengan kami sebagai atasan nya,” cetus nya.

Saat di pertanyakan kapan proses itu akan di laksanakan, ” Proses pemeriksaan sudah kami lakukan dari tiga hari yang lewat, kita dengar-dengar pun orang itu sudah apa, si orang tua pun tidak melanjutkan laporan nya.
Tapi itu ngak jadi pegangan sama kita, kalau memang dia berbuat seperti itu, bukan guru sebenar nya berbuat seperti itu.
Kalaupun memang ada proses perdamaian, kita akan tetap lanjuntkan itu,” sambung nya, mengakhiri pembicaraan.

(M.Parulian Aruan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *