Babinsa sawohan serda tatok melaksanakan kegiatan komsos dg para petani tambak udang di desa sawohan dusun kepetingan kab sidoarjo

oleh -

Detikkasus.com | Sidoarjo -, Menurut ungkapan para petani tambak udang di wilayah desa sawohan dusun kepetingan kec buduran nasib yg kurang mujur kini tengah dialami para petambak udang di dusun kepetingan. Bibit udang yang mereka tanam rata rata banyak yg mati mengambang. Penyebab kematian jenis udang vaname itu masih dalam proses penyelidikan instansi terkait.

Namun para petambak udang di wilayah desa sawohan kec buduran di dusun kepetingan mengira, kematian petani tambak udang vaname itu akibat pengaruh cuaca.

“Cuacanya yg tidak menentu dalam sehari terkadang panas terkadang hujan. Ini yang membuat bibit udang yang mati mendadak terutama yang masih berusia di bawah 2 bulan, memang pada umumnya para petani tambak udang menanam bibit udang dalam usia di bawah 2 bulan, sehingga para petani tambak banyak yang menderita kerugian.”

Ada beberapa puluh hektar tambak udang yang ditanam lebih awal sehingga usianya ada yang sudah mencapai 3 bulan. Sebagian besar tanaman udang yang sudah berusia 3 bulan ini masih cukup bertahan. Meski begitu, belum bisa dikatakan tanaman udang vaname itu selamat dari kematian massal,” katanya.

Dikatakan, udang vaname sebetulnya termasuk jenis udang yang kuat dan bandel dan doyan makan karena itu pertumbuhannya relatif cepat.

Berbeda dengan udang windu yang rentan terhadap serangan virus sehingga mudah mati. Karena dinilai merugikan para petani tambak, petani tambak udang di wilayah sidoarjo sekarang sudah jarang menanam udang windu

Menurut dia, dugaan pengaruh iklmim atau cuaca menjadi penyebab kematian massal, Bibit udang vaname diketahui ketika pada pagi hari terjadi hujan deras kemudian terang dan tak lama sinar matahari bersinar terik. Beberapa saat kemudian tampak udang-udang itu muncul ke permukaan, seperti dalam kondisi stres. “Beberapa jam kemudian udang yang stres itu akan mati mengambang,” katanya.

Para petani menderita kerugian puluhan juta. Ironisnya sebagian besar tambak udang yang mati ini milik petani tambak yang hidupnya pas-pasan dan sangat menggantungkan hidupnya dari hasil panen udang. Setelah tambak udang mereka gagal panen para petani tambak tidak tahu harus berbuat apa.

Serda Tatok menyampaikan Saya selaku babinsa Desa sawohan dan beserta seluruh petani tambak yang ada di wilayah desa sawohan akan memantau dan mendampingi utk berkordinasi dan menampung, aspirasi mereka yg akan di sampaikan kepada kepala dinas perikanan di kabupaten sidoarjo.

agar para petani tambak yang lainnya nantinya bisa menyebutkan, selain pengaruh cuaca yang kurang menguntungkan, seringnya hujan di daerah kab sidoarjo juga menyebabkan tingkat keasaman air tambak menurun jadi “Seringnya turun hujan atau terlalu banyaknya campuran air tawar dari sungai kurang bagus buat tanaman udang di tambak,” ujarnya.

Air pada ditambak setiap saat harus dijaga agar tingkat keasamannya stabil. “Air asin terlalu banyak masuk tambak udang enggak baik, air tawar terlalu banyak masuk tambak juga enggak baik, katanya Yang baik itu jika kadar keasaman air tambak normal. Petani tambak menyebut rasa air tambak itu payau, terlalu asin tidak terlalu tawar juga tidak ucapnya.(Zeey /Lyn).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *