Andy Khoirul Tertutup “Disperhub Diharapkan Lirik Lokasi Rpk-2”

oleh -

Detikkasus.com l Labuhanbatu – Sumut

(21/11/2019) Andy Khoirul tertutup informasi, dirinya tidak berkenan memberikan tanggapan tentang terbitnya pemberita’an anggotanya yang menghalang-halangi team pada sa’at melakukan kegiatan sosial kontrol, di lokasi pembuatan rel kereta api jurusan rantauprapat kota pinang RPK 2, “Parahnya lagi Andy Khoirul sebut dirinya pernah membantu, Tetapi dirinya tidak bisa pertanggung jawabkan jenis bantuan yang dia berikan, Mirip legenda yang merasa dewa, Tetapi tidak dapat di telusuri akhir ceritanya”.

Setelah suruhan Andy Khoirul ngamuk-ngamuk di RPK-2 Kelurahan Urung Kompas, Kecamatan Rantau Selatan Kabupaten Labuhanbatu Provinsi Sumatera, tentunya kejadian itu mengundang dilema pertaya’an yang akan timbul, Ada apa dengan situasi kondisi pembuatan rel kereta api tersebut. “Kalau memang tidak ada unsur penyimpangan yang dilakukan, Lantas Kenapa harus risih dengan keberadaan TIM dilokasi”.

Kontraktor atau Manager PT. Istana Putra Agung (IPA) dan bahkan Menteri Dinas Perhubungan, Untuk datang langsung kelokasi RPK-2, Agar kegiatan yang mereka lakukan tidak bertentangan dengan “Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: 60 tahun 2012”

BAB III pasal: 7 yang menyatakan “Ruang pengawasan jalur kereta api, Sebagaimana dimaksud dalam pasal empat (4), Meliputi bidang tanah atau bidang lain dikiri dan dikanan ruang milik jalur kereta api digunakan untuk pengamanan dan kelancaran operasi kereta api”.

Huruf F:

Lapisan tanah harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: “Material Lapis dasar tidak boleh mengandung material organik gambut dan tanah mengembang”.

Temuan dilokasi RPK-2 “Tak jarang material jenis organik jenis Akar Dedaunan, Gambut dan tanah mengembang”. Pakta temuan tersebut bisa dilihat bersama yang terlampir di artikel ini”.

Dalam logika berpikir jenis organik yang mudah membusuk, Bakal timbul lobang dan membuat kondisi penyusutan, Kemudian terjadi kemiringan di sana sini, Yang akan menimbulkan keselamatan penumpang, “Sebaiknya segeralah dilakukan lirik situasi kondisi RPK-2 tersebut, Demi terciptanya kebaikan kita bersama”. Ujar TIM

Diedisi yang lalu dengan judul “Di-Rpk 2 Premanisme Masih Ada Dizaman Digital”. Tim yang sedang melakukan sosial kontrol di lokasi RPK-2 datang berbadan gempal ngamuk-ngamuk, Wartawan yang meliput di intimidasi oleh oknum premanisme , “Pada sa’at Joni Sianipar sedang mengambil poto dilokasi kejadian, Sang pelaku premanisme melakukan aksinya brutalnya”.

Awalnya Joni Sianipar mendapat informasi dari keluhan masyarakat, “Bahwa katanya Pekerjaan Proyek Nasional Jalur Rel Kereta Api mirip kubangan kerbau, Jalan yang dilintasi masyarakat becek berlumpur akibat kenderaan mobil Dump Truk yang melintas mengangkat tanah kejalur Rel Kreta Api tidak ditutup dan tanahnya berjatuhan ke Jalan, “Sehingga masyarakat sehingga kesal yang di akibatkan situasi jalan becek dan berlumpur”.

Masih dalam kondisi memantau yang di sampaikan masyarakat, Datang pelaku bertubuh gempal ngamuk-ngamuk ala premanisme, secara spontan kejadian tersebut disempat Joni Sianipar, untuk mengambil Photo.

Bentuk Intimidasi yang dilakukan Oknum premanisme tersebut melarang, mengusir dan sambil memainkan tangan mendorong keatas bahu menarik baju Joni Sianipar agar keluar dari lokasi. “Sekitar pukul 18:08 Wib melalui situs WhatsAAp, ANDY KHOIRUL orang yang berperan aktip di RPK-2, Tidak mau menjelaskan siapa nama lengkap pelaku yang berbuat gaduh tersebut.

Tentunya sangat disayangkan kejadian yang menghalang-halangi wartawan untuk mengambil Poto sebagai dokumentasi, “Pada dasarnya dana pembuatan rel kereta api bersumber dari uang rakyat, Sudah sewajarnya kegiatan tersebut dapat di pantau oleh masyarakat, Kalau memang dalam kegiatan RPK-2 tidak ada melakukan penyimpangan lantas kenapa harus risih”.

Insiden yang menghalang-halangi seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi, “Kecuali dana anggaran pembuatan rel kereta api tersebut, Uangnya bersumber dari milik pribadinya, atau uang pribadi milik majikan yang berbuat premanisme tersebut”. (Yunus Laia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *