Jombang | Detikkasus.com – Gerbong mutasi di lingkungan Pemerintah Daerah kembali bergerak. Kali ini, sorotan tertuju pada sektor vital yang menjadi ujung tombak pembangunan dari akar rumput.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Pergeseran jabatan ini menandai babak baru dalam upaya memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dengan tata kelola desa.
Jabatan Kepala DPMD kini resmi diemban oleh Sudiro Setiono, S.Sos., M.Si. Sosok yang dikenal memiliki rekam jejak kuat di bidang administrasi dan kebijakan publik ini dipercaya mampu membawa napas segar dalam program-program pemberdayaan masyarakat yang selama ini menjadi prioritas pembangunan daerah, pada Kamis (15/1) sore.
Menariknya, Sudiro tidak sendirian dalam menjalankan misi besar ini. Ia akan didampingi oleh Dr. Rika Paur Fibriamayusi yang ditunjuk sebagai Sekretaris Dinas. Penunjukan Dr. Rika dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat sisi manajerial dan inovasi di dalam internal dinas.
Kombinasi antara Sudiro yang berpengalaman luas di lapangan dengan Dr. Rika yang memiliki latar belakang akademis serta kompetensi manajerial yang mumpuni, diharapkan mampu menciptakan “duet maut” dalam mengeksekusi berbagai program kerja, mulai dari penguatan BUMDes hingga digitalisasi desa.
Dalam sambutannya usai pelantikan, pesan yang tersirat sangat jelas. Desa harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek. Tantangan ke depan bagi DPMD di bawah kepemimpinan baru ini meliputi.
Peningkatan Kapasitas SDM: Memastikan perangkat desa memiliki kompetensi yang setara dengan tuntutan zaman.
Optimalisasi Dana Desa: Mengawal agar setiap rupiah yang mengalir ke desa benar-benar dirasakan manfaatnya untuk kesejahteraan warga.
Transformasi Digital: Mendorong desa-desa agar lebih melek teknologi demi pelayanan publik yang lebih cepat dan transparan.
Pergeseran ini pun memicu optimisme di kalangan masyarakat dan para pegiat pemberdayaan. Banyak pihak berharap, di bawah tangan dingin Sudiro Setiono dan dukungan administrasi dari Dr. Rika, DPMD tidak hanya sekadar menjadi instansi administratif, tetapi benar-benar menjadi katalisator perubahan di tingkat desa.
”Pemberdayaan itu soal hati dan kerja keras di lapangan. Kami optimis kepemimpinan baru ini bisa membawa perubahan nyata yang menyentuh langsung ke masyarakat bawah,” ujar salah satu tokoh penggerak swadaya masyarakat setempat.
Kini, publik menanti gebrakan pertama dari duet Sudiro-Rika. Apakah mereka mampu membawa desa-desa kita menjadi lebih mandiri dan berdaya saing di tengah tantangan ekonomi global? Waktu yang akan menjawab, namun langkah awal ini telah menebar harapan baru bagi kemajuan daerah.
(Jum)






