Tanjab I detikkasus com – Pembangunan jalan bernilai ratusan juta rupiah yang dibiayai anggaran tahun 2025 di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Provinsi Jambi, kini menjadi sorotan setelah jalan yang baru saja selesai dibangun pada tahun lalu mengalami kerusakan berupa retakan dan lapisan yang terkupas. Bahkan, papan informasi proyek yang seharusnya memuat detail pekerjaan tidak ditemukan di lokasi, dengan dugaan sengaja tidak dipasang untuk menghindari pengawasan publik.
Proyek peningkatan infrastruktur jalan ini dilakukan untuk dua lokasi pondok pesantren. Pertama, Pondok Pesantren Datu Syekh Ismail Nagara di Kecamatan Bramitam. Kedua, Pondok Pesantren Baqiatusshsolihat yang berada di Kelurahan Sungai Nibung, Kecamatan Tungkal Ilir. Total anggaran yang dialokasikan mencapai ratusan juta rupiah dari anggaran pemerintah kabupaten.
Sayangnya, volume pekerjaan serta spesifikasi proyek seperti panjang jalan, jenis permukaan, dan jadwal penyelesaian tidak dapat diketahui secara pasti karena tidak adanya papan proyek di lokasi. Kondisi ini semakin memperkuat dugaan terkait kurangnya transparansi dalam pelaksanaan proyek pembangunan yang menggunakan anggaran publik.
Dalam pantauan langsung awak media di lapangan, kondisi jalan di kedua lokasi menunjukkan kerusakan yang cukup jelas. Di Pondok Pesantren Datu Syekh Ismail Nagara, selain permukaan jalan terkupas dan retak, juga tampak bekas tempelan yang dilakukan pada bagian keretakan tersebut sepanjang jalan lingkungan pondok pesantren. Sementara itu, di Pondok Pesantren Baqiatusshsolihat, kerusakan berupa retakan dan lapisan jalan yang terkupas juga terlihat dengan jelas tanpa ada tanda-tanda perbaikan yang dilakukan secara menyeluruh.
Kondisi ini mengindikasikan adanya dugaan lemahnya pengawasan selama proses pembangunan maupun pasca-pembangunan. Padahal, jalan yang baru selesai dibangun seharusnya dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar, khususnya penghuni dan pengelola kedua pondok pesantren.
Hingga saat ini, pemerintah kabupaten melalui dinas terkait belum dapat dikonfirmasi terkait penyebab kerusakan dan langkah tindak lanjut yang akan dilakukan. Begitu juga pengelola kedua pondok pesantren yang belum dapat memberikan keterangan terkait dampak yang dirasakan serta harapan terhadap perbaikan. Selain itu, kontraktor pembangunan maupun konsultan yang menangani proyek ini juga belum dapat dihubungi untuk memberikan penjelasan mengenai mutu konstruksi dan faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kerusakan.(Ben)






