Detikkasus.com | Indonesia – Provinsi Jatim – Kabupaten Tuban, 2018.
Terkait insiden runtuhnya tambang batu kapur di Desa Pucangan Kecamatan Palang Kabupaten Tuban (18/12) Selasa kemarin, ketua Yayasan Pecinta Alam Acarina Indonesia (YPAAI) M. Ali Baharudin angkat bicara.
Kepada detikkasus.com M. Ali Baharudin via ponsel mengatakan, “Runtuhnya tambang secara sederhana itu karena pola pelaksanaan eksploitasinya yang salah, Kalau benar pasti tidak akan runtuh secara demikian. “Ujarnya.
Ketua YPAAI ini juga menambahkan, “Runtuhnya tambang disebabkan Masyarakat belum memahami tata cara penambangan yang aman dan baik dan terkesan asal menambang, ini sangat bahaya!, sehingga keselamatan penambang masih menjadi hal yang dikesampingkan. Hal Ini yang membuat kita prihatin. ,”Tandasnya.
“Selain kawasan KARS kita yang rusak dan tidak mungkin di reklamasi karena polanya yang salah, saya menduga ini ilegal!, karena kalau legal tidak mungkin kegiatan eksploitasinya seperti itu. “Papar Ketua YPAAI ini.
Dijelaskan lebih lanjut, legalitas penambangan pasti akan diatur dengan baik polannya di dalam UPL – UKL atau amdal. Perlunya pembinaan oleh pihak berwenang terkait kegiatan tambang, karena banyak kita temui di Kabupaten Tuban tambang-tambang legal baik galian C, Pasir Kuarsa, tanah liat yang perlu dilakukan evaluasi sesuai atau tidak pola eksploitasinnya.
Masih M. Ali Baharudin berharap, “masyarakat yang melakukan kegiatan eksplotasi tambang rakyat perlu di data dan dilakukan pembinaan oleh Pemkab Tuban. Sehingga masyarakat paham bagaimana resiko bencana dan kerusakan alam akibat pertambangan, safety-nya dan pola eksploitasi yang baik, “harapnya.
“Pemkab harus pertegas aturan terkait klasifikasi tambang rakyat lewat Perda, jangan semua tambang ‘ngakunya’ tambang rakyat, padahal ekploitasinnya besar sekali dan menggunakan mesin/alat berat, “pungkas Ketua YPAAI.
(Mam)